Senin, 19 April 2021
Belajar dari Anak-Anak
Rabu, 08 Juni 2011
..semoga..

bermula dari menerka rasa. melempar tanya. mengulas makna.
lalu kuusir curiga. kubuang bayang jingga. kugenggam biru saja.
karena menyayangi. adalah mencoba memahami. mengerti. menghargai.
karena mengingat kamu. adalah mengingat beribu tunggu. berjuta rindu. bertumpuk haru.
maka aku tak berhenti perhatikan. kamu yang selalu mendengarkan. menenangkan. menguatkan.
dan kurapal doa-doa. dan kupintal benang-benang pinta. dan kumohonkan tentang kita.
semoga. ada. suatu masa. yang kita pinta. bersama.
semoga.
Sabtu, 30 April 2011
..and we're all change..
Awalnya tersenyum sendiri melihat deretan kata-kata dalam email-email "yang lain-lain" itu. Lalu jadi mikir, saya teh dulu gitu ya? Hmmm, begitu banyak hal yang terlupa. Bahkan kadang lupa, diri sendiri dulu seperti apa. Dan setelah diingatkan, perubahan-perubahan jadi semakin nyata terlihat.
Nggak puas baca email-email lawas, saya geledah tulisan-tulisan di blog yang masih "terselamatkan", note FB (termasuk yang sangat nggak penting :p), dan... FS. Lalu, menemukan komentar seorang sahabat yang sekarang entah dimana dan seperti apa. Seorang sahabat yang pasti berubah seperti saya juga berubah.
time is always "something"..
And we're all change
but I'm sure, you're one of my best fren..
no matter how long it's been
no matter how far we change
b'cuz everything will always changes, except the change itself...
uhibbuki fillah, lillah, billah
:)
Rabu, 20 April 2011
..doaku bersamamu, kawan..
Ada yang berbeda dari nada suaranya. Bukan nada antusias seperti saat dua hari yang lalu dia menelepon. Bukan nada bahagia seperti saat terakhir kali dia bercerita tentang kangmasnya. Dan bukan sekedar nada cemas seperti saat dia bicara soal ujian apotekernya.
Ada segurat kesedihan di Cisitu sana yang terasa sampai ke Kebon Sirih. Dan perasaan saya jadi ikut tak menentu mendengar ceritanya kali ini. Mendadak, saya ingin bisa terbang. Mendarat di Cisitu Indah dan benar-benar berada di sampingnya saat dia menangis.
Lagi-lagi, Cuma bisa mendoakan dari kejauhan. Cuma bisa menyemangati dari kejauhan.Cuma bisa memberi pelukan imajiner :(
Sabar ya, kawan. Tidak ada amal baik yang sia-sia. Allah mengetahui setiap ikhtiarmu untuk menjadi hambanya yang lebih baik dari hari ke hari. Dan tolong, berhentilah khawatir. Berhentilah berkata, “Gue nggak sanggup.” Doaku bersamamu, selalu.
Semoga kita bisa bertahan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Amin.
Sabtu, 09 April 2011
*krisis percaya diri*
Ada saat ketika otak saya dipenuhi tanya dan hati saya dipenuhi rasa..
Ada saat ketika airmata saya tak berhenti mengalir..
Ada saat ketika saya sulit menjawab pertanyaan mengapa..
Ada saat ketika saya takut..
Sabtu, 26 Maret 2011
..cokelat dan kuning..
Entah kenapa, saya belum ingin beranjak dari kursi ini. Dari layar komputer ini. Dari kantor ini. Ya ya ya, aneh memang, saya yang biasanya nggak betah lama-lama di kantor, kok sore ini belum juga ingin beranjak pergi. Masih ingin ketak ketik. Tentunya bukan ketak ketik berita, tapi ketak ketik curahan hati ini. Cukup sudah tulisan saya tentang RUU intelijen hari ini. Cukup juga tentang isu kudeta di negeri ini. Saya ingin bernarsis ria sambil tralala trilili.
Mari kita mulai bicara tentang warna kerudung saya hari ini. Cokelat. Warna baju saya. Cokelat juga. Warna celana saya. Hehe, lagi-lagi cokelat. Warna sepatu (baru) saya. Cokelat, mamen. Warna tas saya. Eh eh eh, cokelat juga loh bo. Maka, saya teringat jaman kuliah dulu, dimana seorang teman saya dengan mudahnya menebak, "Kamu suka warna cokelat ya?" Tak perlu menjawab dengan kata, cukup haha hehe sambil mengangguk semangat.
Iyaaaa, jadi ceritanya, sore ini saya mau cerita kalau saya suka (warna) cokelat, selain juga suka (permen) cokelat, suka (cake) cokelat, dan (sangat) suka es krim cokelat. Gimana? Penting banget kan cerita saya? Aw, aw, aw, saya memang selaaaaaalu penting :)
Jadi, sebenarnya, jaman dahulu kala, cokelat itu warna kesukaan kanjeng ratu alias ibu saya. Lalu, ketika sang kanjeng ratu melahirkan seorang putri nan manis, melankolis, dan (terkadang) ceriwis, ditularkannyalah semangat mencintai warna cokelat. Bisa dibilang, semacam cuci otak. *ya, saya memang sedang lebay, bodo amat apa kata dunia*
Sang kanjeng ratu (sangat) sering membelikan barang berwarna cokelat untuk puteri (manis)nya. Sebenarnya, dulu sang puteri sempet kesel juga, maka ia menggerutu, "Sebenarnya ibu saya pengen beli baju untuk dirinya sendiri atau untuk anaknyaaaaa? Kenapa yang dijadikan pertimbangan dalam membeli barang adalah warna kesukaannyaaaaaaa? Padahal kan warna kesukaan saya warna merah, bukan cokelaaaaat!!"
Pernah suatu ketika, di saat sang puteri berusia 11 tahun dan (sangat) tergila-gila dengan aktivitas yang bernama renang, sang ratu membelikan baju (yang lagi-lagi) berwarna cokelat. Dan dengan suksesnya, baju itu membuat sang puteri yang saat itu kusam, kumal, selain juga kurus menjadi semaaaaaaakin kusam (tapi tetap manis). Selalu warna itu. Cokelat. Dan entah sejak kapan, sang puteri jadi suka cokelat juga. Untungnya, kali ini sang puteri tidak lagi terlalu kusam (menurut dirinya sendiri).
Dan sore ini, sang puteri yang memang selalu iseng dan penasaran dengan hal-hal yang nggak penting, jadi ingin tahu arti warna cokelat. Yuk mari mengintip hasilnya:
Arti Warna Cokelat
Merupakan warna netral yang natural, hangat, membumi dan stabil, menghadirkan kenyamanan, memberi kesan anggun dan elegan. Dapat memberi keyakinan dan rasa aman, warna yang akrab dan menenangkan, bisa mendorong komitmen, namun bisa menjadi berat dan kaku bila terlalu banyak.
Yuk, intip lagi..
Warna cokelat adalah warna yang kesannya paling dekat dengan bumi sehingga membuat kita merasa dekat. Cokelat bisa menjadi sumber energi yang konstan, serta membuat kita merasa kuat. Warna ini mewakili rasa aman, komitmen dan kepercayaan. Coklat juga memberikan rasa hangat dan nyaman.Respon Psikologi: Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan.
Dan lagi..
Cokelat melambangkan kekuatan, energi, kehangatan, cinta,Tanah/Bumi, Reliability, Comfort, Daya Tahan. Warna ini seringkali menunjukan ciri-ciri : suka merebut, tidak suka memberi hati, kurang toleran, pesimis terhadap kesejahteraan dan kebahagian masa depan.
Yap, itu dia tentang cokelat, si warna yang sisi buruknya adalah agak muram dan kaku. Tapi tahukah anda bahwasanya saya punya satu lagi warna favorit? Dan warna itu adalah.. kuning. Sedikit bocoran, ranger kesukaan saya adalah ranger kuning alias trini, semoga informasi ini berguna :D oiya, satu bocoran lagi, salah satu bunga favorit saya adalah bunga matahari, si bunga berwarna kuning yang menurut teman saya memiliki makna, "aku akan selalu menunggumu.." *aih, aih, so sweet :)
Maka, next destination: kuning :)
Adalah warna matahari, cerah, membangkitkan energi dan mood, warna yang penuh semangat dan vitalitas, komunikatif dan mendorong ekspresi diri, memberi insprirasi, memudahkan pikiran secara logis dan merangsang kemampuan intelektual
Warna ini melambangkan kegembiraan dan warna kehidupan. Optimis, Harapan, Filosofi, Ketidak jujuran, Pengecut (untuk budaya Barat), pengkhianatan. Juga Melambangkan warna matahari terbit. Karena warna ini juga sangat bersemangat, sehingga efeknya kita mudah lelah juga kalo terlalu didominasi warna ini. Warna ini mempunyai sifat : Leluasa dan santai, senang menunda-nunda masalah. Berubah- ubah tapi penuh harapan,mempunyai cita-cita setinggi langit dan semangatnya juga tinggi.
Muda, gembira, imajinasi. Warna kuning akan meningkatkan konsentrasi, itu sebabnya warna ini dipakai untuk kertas legal atau post it. Kuning juga merupakan warna persahabatan.
Maka, saya suka cokelat yang muram, juga kuning yang semangat. Saya suka cokelat yang pesimis, juga kuning yang penuh harapan. Saya suka cokelat yang berarti komitmen, juga kuning yang berarti pengkhianatan. Saya suka cokelat yang stabil, juga kuning yang berubah-ubah. Oh, apakah gerangan makna semua ini? Ya, ya, ya, saya memang penuh kontradiksi. Tapi, mari kita lihat sisi positifnya, saya berada dalam harmoni, amin :)
Sekian dulu, semoga hari-hari kita selalu diwarnai semangat, sesemangat bunga matahari yang tak berhenti menunggu sambil tersenyum. Sesemangat mereka yang sedang jatuh cinta *menurut salah satu novel yang saya baca, kuning adalah warna aura orang yang jatuh cinta, novel kesukaan saya itu berjudul Tabularasa :)
Dan semoga kita selalu dikaruniai ketenangan dan kerendahan hati. Seperti pesan sang tanah. Cokelat.
*udah ah narsisnya, malu. saatnya pulaaaaaang :D
Selasa, 08 Maret 2011
..rindu, seperti selalu..
tunjukkan aku selalu
jalan yang Kau restui tanpa ragu
dan tuntun aku hingga kumampu
mengantar rindu
dengan cara yang syahdu
serupa ombak berdebur
penuh syukur
Minggu, 06 Maret 2011
..ingatan..
Teringat bagaimana saya melalui hari-hari 3 tahun yang lalu. Bagaimana setiap hal saya maknai. Dan betapa tak pernah ada hal kecil. Tak pernah ada yang tak layak dimaknai.
Teringat kata-kata sang teman 7 bulan yang lalu, ''Keep writing and i will read it.''
Ayo Ayu, menulis. Ayo ayu, jangan berhenti memaknai.
Bismillah.
Rabu, 02 Maret 2011
Mengartikanmu
setelah hening
dan aku tak bergeming
Kamu sejuk yang nyaman dan tak asing
bukan hujan yang bising
bukan pula kemarau kering
Kamu satu-satunya denting
yang penting
Kucintai bersama hening
Selasa, 22 Februari 2011
Pagi
kita bertemu lagi dalam imaji
sekat-sekat ruang hati
dimana engkau mengemas mimpi
Pagi
untukmu kukirimkan wangi
dari aroma melati
yang bersiap menantang hari
Pagi
masih akan ada pagi
saat dimana aku menjumpai
engkau pergi, engkau kembali
Pagi
jangan terlalu lama pergi
Hati-hati
_suatu pagi di Februari_
Selasa, 01 Februari 2011
pernikahan?
Dini hari ini, saya sangat ingin menulis tentang pernikahan. Mungkin ini efek membaca blog seorang teman dua hari yang lalu. Mungkin ini efek pernikahan dua sahabat saya dua minggu lagi di dua kota yang berbeda. Mungkin juga ini efek rencana pernikahan dua sahabat saya yang lain lagi pada semester kedua 2011. Kemungkinan lainnya, ini karena saya berada di 2011 dan semua orang membicarakan pernikahan, bahkan angin pun menghembuskan hal yang sama (berhiperbola :p).
Lima tahun yang lalu, di antara rentetan buku-buku bekas di Palasari, saya dan seorang sahabat membicarakan hal itu. Atau lebih tepatnya, memperdebatkannya. Pernikahan.
Lima tahun yang lalu, saya bertanya pada banyak teman. Pada mentor. Pada orang tua. Dan pada rumput yang bergoyang (sindrom kangen lagu-lagu Ebiet :p). Tentang hal itu. Pernikahan.
Lima tahun yang lalu, saya menolak hal itu. Pernikahan.
Lima tahun yang lalu, saya merasa itu tak perlu. Pernikahan.
Lalu, lima tahun setelah lima tahun yang lalu. Pada suatu dini hari, 2 februari. Di sebuah kamar kosan di Salemba (mohon disimak baik-baik, kamar kosan, bukan kamar rutan :p), saya tertawa menelusuri kenangan.
Pernikahan adalah ibadah. Bukti cinta dan keyakinan padaNya. Karena tak satu pun aturan Ia buat untuk mempersulit makhlukNya. Karena ia sangat mengenal makhluk yang diciptakanNya. Karena jalan yang ditunjukkanNya adalah kebaikan. Sesederhana itu, seindah itu, alasan dan jawaban atas setiap pertanyaan saya.
Maka, semoga Allah kuatkan langkah kami dalam menjemput takdir yang indah. Semoga kami selalu ingat, setiap kesulitan adalah ujian. Semoga kami dikaruniai kesabaran tak terbatas untuk mengerti, jalan ini bukan jalan sendiri maka setiap hal harus kami bagi. Dan semoga ketika kelak pernikahan itu terwujud, kami tak lupa alasan kami memulainya.
Dua hari yang lalu, salah seorang teman saya (yang berencana untuk menikah dalam waktu dekat) bertanya, ''Lo udah siap nikah, Yu?'' dan saya menjawab, ''Mempersiapkan diri.''
Mungkin persiapan ini tak pernah sempurna. Mungkin akan selalu ada yang kurang. Dan rasanya, akan ada banyak hal tak terduga yang datang menyapa. Tapi adalah suatu kepastian, Allah mengaruniai hambaNya kemampuan menjalani setiap takdirNya.
Pagi ini, saya berdoa untuk mereka. Sahabat-sahabat saya yang bersiap menjemput takdir terindah bersama lelaki yang mereka yakini akan menjadi nahkoda yang baik, yang akan selalu mereka banggakan sebagai ayah dari anak-anak mereka kelak.
''Teguhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cinta kasihnya. Tunjukilah jalan-jalannya. Dan penuhilah hati-hati tersebut dengan cahayaMu yang tidak pernah hilang.'' :)
_ditulis pada 2 Februari, dari dini hari sampai pagi dengan diselingi tidur nyenyak :p_
Minggu, 26 Desember 2010
2011 Momentum Perbaiki Hubungan Industrial
“Kita kalah saing kalau 2011 tidak jadi titik tolak. Harus ada komitmen pemerintah untuk mensinkronkan hubungan industrial di Indonesia, termasuk mensinkronkan Undang-Undang,” katanya.
Menurut Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Rekson Siklaban, ada 3 hal yang menjadi musuh utama buruh di tahun 2010. Pertama, persoalan outsourcing dan buruh kontrak. Berdasarkan data Bank Dunia, sekarang ini persentase buruh permanen di Indonesia tinggal 35 persen. Padahal, lima tahun yang lalu masih 67 persen.
“Berarti, dari angkatan kerja formal yang jumlahnya 33 juta, hanya 9 juta saja yang memiliki pekerjaan permanen dan skenario hidup sampai pensiun,” katanya.
Rekson mengatakan, persoalan outsorcing dan buruh kontrak berkaitan erat dengan pengangguran terselubung. Data pemerintah menyebutkan, pengangguran terbuka saat ini 8,6 persen atau 9,2 juta orang. Akan tetapi , jumlah pengangguran terselubung yang bekerja di bawah 36 jam per minggu jarang disebutkan. Saat ini, jumlah pengangguran terselubung terus membengkak menjadi 32 juta dan semuanya sangat miskin.
Sistem outsorcing tidak selalu bagus. Outsorcing hanya bagus di tempat-tempat tertentu yang membutuhkan komitmen dan relasi jangka pendek.
Musuh kedua adalah Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Dulu, lembaga ini dianggap sebagai lembaga yang menyelesaikan masalah tenaga kerja secara adil. Kenyataannya, inilah lembaga yang diharapkan tidak bisa dimasuki buruh.
Proses peradilan yang lama, bisa memakan waktu 3 hingga 4 tahun, membuat buruh biasanya langsung menyerah. Kalaupun kemudian buruh menang, ada masalah dalam eksekusi. Lima tahun terakhir, dari keseluruhan kasus, 85 persen berakhir dengan kekalahan buruh atau negosiasi.
Musuh ketiga berkaitan dengan pengawasan. Meskipun ada Keputusan Presiden mengenai desentralisasi pengawasan, tetapi persoalan pengawasan tetap menghantui dunia perburuhan.
Menurut Rekson, akar dari seluruh permasalahan ini adalah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Angka outsorcing dan buruh kontrak terus memburuk sejak pelaksanaan UU tersebut. Jumlah kasus yang dimenangkan buruh di PHI pun terus menurun. Selain itu, tidak ada sanksi yang jelas dalam UU tersebut terkait pelanggaran terhadap buruh outsorcing dan kontrak.
“Kalaupun masuk pengadilan, tidak ada sanksi uang atau pidana,” katanya.
Rekson mengatakan, permasalahan ini semakin memburuk karena dipolitisasi. Menurutnya, ada pihak tertentu yang menggunakan draft palsu revisi UU Nomor 13 Tahun 2003 untuk mengagitasi buruh turun ke jalan dan menolak revisi UU tersebut. Padahal, draft tersebut belum pernah dibicarakan di tripartit karena masih menunggu penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
“Seringkali, yang lebih banyak ke jalanlah yang didengar dengan dasar populis. Lembaga-lembaga fungsional harus mengambil alih fungsinya dengan benar dan pengambilan keputusan DPR tidak boleh berdasar rumor. Jangan lagi mobilisasi massa yang dipengaruhi politik menjadi dasar kebijakan pemerintah. Tunggu LIPI sehingga perdebatannya merupakan hasil kajian akademis,” katanya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi turut menyayangkan beredarnya draft palsu revisi UU Nomor 13 Tahun 2003. Pihaknya menyayangkan jika tekanan berupa penolakan revisi UU tersebut yang didasarkan pada draft palsu menjadi dasar keputusan DPR.
“Itu bukan dari LIPI, kami sudah cek,” katanya.
Terkait persoalan outsorcing, Sofyan menegaskan, ia sangat ingin para pengusaha tidak melakukan hal tersebut.
Menurut Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Thamrin Mosii, terkait persoalan ketenagakerjaan, seluruh pihak terkait harus duduk bersama. Walaupun DPR mengatakan UU Nomor 13 Tahun 2003 belum masuk prioritas tahun ini, tetapi perlu ada diskusi yang melibatkan semua pihak untuk melihat bagaimana solusi yang terbaik.
“KSPI melihat bahwa instrumen yang sekarang perlu dikedepankan adalah dialog sosial,” katanya.
Thamrin menambahkan, ia berharap di 2011 pemerintah segera menyelesaikan persoalan terkait UU Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).
“Kami sangat mengharapkan pemerintah dengan segala kesungguhan menyelesaikan itu dan yang sangat urgent diharapkan serikat pekerja adalah Jamsostek harus bergeser dari payung BUMN yang orientasinya sekarang profit, bukan service. Memang harus jadi tanggungjawab pemerintah dalam kelembagaan, tapi jangan dalam bentuk BUMN. Jaminan sosial orientasinya pelayanan, bukan profit. Saat ini manfaat Jamsostek belum terasa,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga harus bersiap diri terkait konsensus baru mengenai domestic workers oleh International Labour Organization (ILO) di 2011. Pemerintah harus menyiapkan respon sehingga konvensi itu bisa jadi UU di negara kita dalam rangka perlindungan pekerja rumah tangga.
Rabu, 15 Desember 2010
Tentang Kamu
untuk mimpi yang mengabur
untuk semua harap yang terbentur
kamu memaksaku memberi
dan tak kuasa pergi
walau tak pernah ada janji
kamu membuatku merasa utuh
ketika satu sisi hatiku tersentuh
meski dengan cara yang begitu rapuh
*ditulis sambil makan burger di restoran yang ramai dengan balita setelah menyelesaikan kewajiban menulis berita.. :D
Senin, 06 Desember 2010
Tentang Kesabaran
Ia telah melewati banyak hal dalam hidupnya. Banyak hal yang membuat saya takjub dengan ketegarannya. Hal-hal yang membuat Mama berkata, "Hidup kalian nggak boleh seperti hidup Mama. Kalian nggak boleh terhinakan."
Sungguh, pilihan kata Mama itu sama sekali nggak lebay. Dan karenanya, saya bergetar setiap mengingat harapannya itu. Harapan agar hidup kami tidak seperti hidupnya.
Mama selalu suka menasehati kami bersabar. Dan yang selalu berulang dikatakannya, "Sabar bukanlah menyerah. Sabar adalah tidak berhenti berjuang."
Maka, sebaris kalimat itu, kami tancapkan dalam hati. Bulir-bulir kesabaran kami jaga. Tak boleh dan tak pernah boleh terlepas.
"Jangan pernah bilang, habis sudah kesabaran saya. Jangan," Mama menekankan kata "jangan" begitu dalam.
"Setiap merasa kesabaran hamnpir habis, mintalah lagi kepada Allah," katanya.
Dan perbincangan tentang kesabaran kami tutup dengan sebuah pelukan.
:)
Doa 6666 Malaikat
Kadang, nasehat yang sama dibicarakannya berulang. Dan saya tak pernah bosan, justru selalu ingin mendengarnya kembali. Nasehat itu pun saya putar ulang di kepala saat saya tahu, saya membutuhkannya.
Dari semua perbincangan dengan Mama, salah satu yang paling berkesan adalah perbincangan tentang khatam Al Qur'an. Tentang "rahasia yang indah".
"Selalu sempatkan baca Al Qur'an, setiap hari," begitu Mama membuka nasehatnya.
"Setiap kali khatam, akan ada 6666 malaikat yang hadir dan mendoakan," lanjut Mama.
Dan saya tersenyum. Untuk satu lagi mutiara yang Mama bagi. Untuk belaian lembutnya di kepala saya. Untuk 6666 malaikat.
:)
Minggu, 05 Desember 2010
Indonesia Bagai Mutiara Dalam Air
Pada Jumat (3/12) pagi, tiga wartawan Jurnal Nasional Ayu Lazuardi Mutmainnah, Taufan Sukma dan Suhartono berkesempatan bincang-bincang dengan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan di kantornya yang sejuk di Jakarta.
Gita bercerita tentang investasi Indonesia, jawaban terhadap kritikan tentang nasionalisme ekonomi, dan daya tarik Indonesia di mata investor dunia. Kinerja makroekonomi yang bagus dan konsisten, membuat Indonesia kini sudah masuk radar investor dunia. Indonesia, menurut Gita, kini bagaikan mutiara yang sudah terlihat di air. Bukan lagi mutiara dalam lumpur. Berikut petikan perbincangan dengan Gita.
Bagaimana investasi di Indonesia terutama di 2011?
Prospeknya lumayan positif. Tapi ini semuanya benar-benar tergantung penyikapan kita mengenai pembangunan infrastruktur dan ini sudah seringkali dibicarakan. Ini tergantung penyikapan pemerintah pada Public Private Partnership (PPP) atau Kemitraan Pemerintah Swasta. Kita sedang mengupayakan Perpres terkait PPP. Mudah-mudahan kita harapkan selesai dalam 1 sampai 2 bulan ke depan. Itu akan mendefinisikan investasi di 2011 seperti apa. Kemarin sudah ditandatangani MoU dengan Bappenas dan Kemenkeu untuk kepentingan BKPM menjadi pintu gerbang dalam PPP.
Pak Gita pernah bilang Kemitraan Pemerintah Swasta atau PPP ini menjadi taruhan Bapak. Bisa dijelaskan?
PPP bukan hanya mendefinisikan kita saja di BKPM tapi akan mendefinisikan kapasitas kita mendatangkan investasi dari dalam dan luar negeri dengan skala yang jauh lebih besar karena tentunya tanpa infrastruktur, kita akan biasa-biasa saja. Walaupun kalau kita lihat sekarang realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tahun ini pada tiga kuartal pertama kan sudah Rp149,6 triliun. Itu sudah sedikit di bawah target untuk setahun yaitu Rp160,1 triliun. Itu kalau kita lihat per kuartalnya sekitar Rp50 triliun, kalau untuk satu tahun kurang lebih bisa Rp200 triliun. Ini bisa dibilang lumayan bagus kalau dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp133,3 triliun.
Tapi apakah angka ini akan terus bisa meningkat? Itu kan asumsi gampang. Tapi asumsi gampang itu hanya bisa terealisasi kalau ada prasarana, infrastruktur. Tanpa ada jalan dan pembangkit listrik saya rasa kecil kemungkinannya.
Saya mau kasih konteks lagi. Jadi target kita untuk lima tahun, 2009-2014 itu adalah Rp1500 triliun untuk PMA serta PMDN. Dan itu dalam konteks Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar Rp10.000 triliun.
Porsi PMA serta PMDN lima tahun itu Rp1500 triliun. Kalau kita mencapai Rp200 triliun di tahun pertama, sisanya itu kan masih ada Rp1300 triliun dibagi empat. Itu Rp325 triliun rata-rata per tahun. Jadi kalau saya hitung kasarnya itu tahun 2014 kita harus mencapai realisasi investasi sekitar Rp550 triliun. Ini fantastis kan? Ini kalau mikir gampanglah. Nah, apakah kita bisa mencapai Rp550 triliun? Saya rasa tidak gampang tanpa dukungan dari prasarana.
Kedua, angka investasi sudah meningkat secara keseluruhan dan angka PMDN sudah meningkat secara persentase. Terus yang ketiga, distribusi modal ke luar Jawa sudah meningkat. Lima tahun sebelumnya sampai tahun 2009, 80 persen penanaman modal di Jawa, 20 persen di Sumatera, Kalimantan dan ribuan pulau lainnya tapi mayoritas di Sumatera dan Kalimantan.
Sekarang kurang dari 80 persen di Jawa, lebih dari dua puluh persen di luar Jawa dan lebih spread out (menyebar). Sudah lumayan banyak ke Indonesia Timur. Kita upayakan bagaimana kita meningkatkan kuenya dan persentase PMDN dan juga persentase non Jawa. Itu misi kita.
PPP, perkembangannya bagaimana?
Jalan tapi ini kan banyak instansi. Dengan Kementerian Perhubungan, Wapres, Menko Perekonomian, Pemda di level Gubernur dan Bupati. Makan waktu tapi saya sih optimistis tahun ini Perpres jadi. Plus minuslah satu dua bulan.
Padahal masalah terbesar di Indonesia adalah koordinasi. Ada solusi?
Solusinya ketabahan dan kesabaran (seraya tertawa..hahaha). Kita harus ikhlaslah. Banyak teman-teman saya di luar yang lihat Indonesia begini putus asa tapi banyak juga yang lihat ini opportunity (peluang). Kalau saya melihat opportunity-nya luar biasa. Indonesia ini tesis investasi yang sangat seksi.
Bisa dijelaskan ide Anda tentang smart capital?
Smart capital itu pemikirannya lebih kepada supaya uang yang datang ke Indonesia jangan mengambil emas kita saja, batu bara kita saja, bauksit kita saja tapi kalau bisa ada alih teknologi. It makes Indonesia smart. Duit yang ditaruh di sini itu dipakai untuk mengelola sumber daya kita sehingga ada value creation (penciptaan nilai) di Indonesia. Membuat kita belajar dan juga bisa jadi entrepreneur. Nah, ini kan ada konsep kemitraan dan investasi dari luar. Itu smart menurut saya.
Untuk mendatangkan uang dari dalam dan luar negeri itu tidak sulit asalkan kerangka regulasinya jelas. Investor lihatnya gampang. Ada stabilitas, ada keamanan, dan ada kepastian hukum dan tentunya ada pasar. Dan penyikapan mengenai tesis investasi di Indonesia itu straight forward (langsung menuju sasaran) sekali. Jadi, sangat menarik. Populasinya 240 juta, demografiknya 60 persen di bawah 39 tahun dan 50 persen di bawah 29 tahun. Dan komitmen pemerintah untuk mengedukasi masyarakat luas itu luar biasa dibandingkan lima sampai enam tahun yang lalu. Semakin orang itu berpendidikan tentunya semakin dinamis populasinya.
Stabilitas makro yang ada secara fiskal, GDP rasio utang kita 27 persen, defisit anggaran kita cuma 1,6 persen. Moneter kita situasinya sangat terjaga. Suku bunga Bank Indonesia tidak pernah naik dari 6,5 persen. Dan secara keseluruhan likuiditas yang ada di perbankan yang dollar saja di atas US$30 miliar dan yang rupiah di atas Rp600 triliun. Lalu cadangan devisa kita sudah US$93 miliar. Kalau dibandingkan apalagi negara-negara Eropa, dengan negara-negara Asia lainnya juga saya rasa postur fiskal dan postur moneternya nggak secantik Indonesia. Investor manapun juga pasti akan tertarik Indonesia.
Indonesia seperti mutiara dalam lumpur?
Sudah tidak di lumpur lagi. Kalau menurut saya sudah di air sekarang. Sudah kelihatan. Tinggal airnya agak keruh sedikit. Bagaimana kita membersihkannya. Dan penyikapan investor tidak perlu hari ini selesai. Tapi bagaimana lima sampai sepuluh tahun ke depan.
Perekonomian kita sekarang sudah US$700 miliar. Kalau kita ekstrapolasi di tahun 2020 mestinya sih US$2 triliun. By that time (sampai tahun 2020 itu), populasi kita diramal masih di bawah 300 juta jiwa, sekitar 260 juta. GDP per kapita kita sudah hampir US$10.000-lah. Kalau mengacu ke ucapannya Pak Boediono (Wakil Presiden), demokrasi sudah sangat bisa suistanable kalau GDP sudah sekitar US$6.000. Mestinya tahun 2019-2020, potret dan corak Indonesia sudah berbeda.
Kalau prediksi Goldman Sachs, pendapatnya agak beda dengan saya. Mereka beranggapan Indonesia tahun 2019-2020 hanya bisa tumbuh dengan US$400 miliar sampai US$500 miliar dari sekarang. Kalau sekarang US$700 miliar dolar, jadi perekonomian kita tahun 2019 atau 2020 itu hanya US$1,1 triliun atau US$1,2 triliun. Saya kurang sepakat. Menurut saya sudah bisa melampaui US$2 triliun kalau kita tumbuh 6 persen per tahun. Apalagi kalau bisa 7,8 atau 9 persen.
Tentang nasionalisme ekonomi. Ada kritikan yang katanya Anda membela asing. Lalu bagaimana Anda menjawabnya?
Jelasnya, kami memprioritaskan permodalan dari dalam negeri. Namun perlu keterbukaan untuk memenuhi capaian kesejahteraan. Tentu hal tersebut diwujudkan dengan penuh kepekaan dan pengabdian terhadap prinsip kedaulatan. Saya menghormati dan menghargai pandangan yang berbeda-beda. Apalagi mengingat tujuan yang ingin kita capai sama. Yaitu kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Soal persepsi buruk Indonesia di luar?
Sudah mulai berubah. Lihat saja angkanya. The number speaks. Angka bisa meningkat lumayan baik karena sudah terjadi perubahan persepsi. Saya memang waktu awal menceritakan Indonesia terlalu sering tampil di media internasional atau prisma internasional sebagai negara yang penuh dengan demonstran. Orang bawa bendera, masuk ke pengadilan untuk putusan korupsi, korban dari tsunami, gempa bumi. Yang begitu-begitu saja.
Orang lupa bahwa di belakang itu ada potret-potret yang cantik mengenai Indonesia dari sisi politik dan perekonomian. Itu tetap saya ceritakan tapi saya ceritakan itu dengan realisme tertentu. Dalam arti saya tidak mau terlalu bombastis juga karena kalau saya swing pendulumnya dari kiri ke kanan terlalu cepat dan terlalu awal. Bablas nanti kalau saya tidak bisa memberikan beberapa hal yang saya janjikan dan saya tidak bisa memanage audience. Jadi secara realistis saja saya cerita.
Oke, saya terima ada kondisi-kondisi yang memang tidak bisa kita elakkan dalam arti gempa bumi terjadi, tsunami terjadi, memang masih ada korupsi. Tapi penyikapannya apakah kita punya kapasitas untuk mengurangi korupsi yang ada? Tentu dong. Kita sudah menaruh ratusan orang dalam penjara. Dan ke depannya ini akan lebih banyak lagi kawan-kawan yang muda, yang lebih educated (berpendidikan) dan berpikir dalam abad 21 ini.
Tentang kebijakan quantitative easing atau pencetakan uang dari Amerika Serikat. Ada pendapat arus modal yang nantinya akan deras masuk ke Indonesia itu nantinya bisa membuat inflasi tinggi. Padahal Indonesia butuh modal. Bagaimana?
Mengenai quantitative easing di Amerika, money supply yang diciptakan bank entral AS ini kebanyakan akan digunakan untuk membeli obligasi pemerintah AS. Sejauh ini jumlah quantitative easing yang akan disalurkan sampai akhir triwulan ketiga 2011 US$900 miliar. Sebagian dari jumlah ini tentu akan meluap dalam bentuk arus
modal yang meningkat ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tapi saya
tidak membayangkan bahwa porsi dari jumlah ini adalah cukup besar untuk menimbulkan inflasi di Indonesia. Prospek likuiditas tersebut akan mungkin masuk dan akan menyerap instrumen-instrumen yang ada di Indonesia. Kemungkinan terjadinya pelemahan kurs dolar Amerika atas hal tersebut tentu akan ter-offset hal-hal seperti terjadinya krisis keuangan di beberapa negara di Eropa, termasuk Irlandia.
Ke depan apa yang harus dilakukan Indonesia?
Pertama, tentunya image building, counter opinion. Opini-opini negatif tentang Indonesia harus kita terima dan harus kita lawan. Yang kedua, tentunya penyisiran kerangka regulasi supaya layak dan adil untuk pengusaha dalam negeri dan luar negeri. Yang ketiga, tentunya bagaimana kita bisa benar-benar menyikapi investment roadmap (peta jalan investasi) kita yang kalau saya lihat terdiri dari empat fase.
Fase pertama, bagaimana kita bisa mendatangkan duit ini dengan skala besar dalam konteks low hanging fruits, buah-buah yang gampang dipetik. Jadi tentunya, duit-duit yang masuk buat ngambil batu bara kita tangkap lalu kita edukasi mereka. Jangan mengambil batubaranya, kalau bisa bangun pembangkit listriknya di sini. Jangan mengambil minyaknya, bangun kilangnya di sini.
Yang kedua, fase pembangunan infrastruktur yang lunak dan nonlunak. Yang lunak seperti pendidikan, yang nonlunak jalanan dan pembangkit listrik. Yang ketiga adalah fase industrialisasi. Ini penting sekali. Kita tidak bisa berpikir jualan batu bara saja. Kita harus naik tingkat.
Kalau kita memikirkan industrialisasi, ibunya industrialisasi ini adalah baja. Negara kita ini masih mengonsumsi baja 30 kilogram (kg) baja per kapita per tahun. Itu dalam konteks pemikiran internasional, kita masih belum menjadi bangsa yang modern. Bangsa yang modern itu adalah bangsa yang sudah mengonsumsi baja sekitar 500 kg per kapita per tahun. Korea Selatan saja sudah mengonsumsi sekitar 1200 kg per kapita per tahun.
Nah, untuk naik dari 30 kg ke 500 kg agar kita bisa menjadi bangsa yang modern, kita harus meningkatkan kapasitas produksi baja menjadi sekitar 120 juta ton per tahun. Kita hanya punya kapasitas produksi 3 juta, konsumsinya 7,2 juta. Ini kita harus bangun sekitar 113 juta ton kurang lebih butuh dana US$120 miliar karena per satu juta ton butuh US$1 miliar.
Jadi pilihannya ada di tangan kita, mau jadi bangsa yang modern atau tidak. Kalau kita mau menjadi bangsa yang modern, kita harus berani mengeluarkan uang US$120 miliar untuk membangun kapasitas produksi baja sebesar 120 juta ton per tahun agar kita bisa mengonsumsi baja sebesar 500 kg per tahun per kapita.
Baru peta jalan investasi keempat fasenya knowledge basical (berbasis ilmu pengetahuan). Di mana kita bisa memposisikan Indonesia sebagai negara berpengetahuan.
Rabu, 01 Desember 2010
..perjalanan hati.. :)
Pertama kali rumah ini didirikan, saya ingin menjadikannya tempat berbagi cerita tentang aktivitas jalan-jalan. Aktifitas yang sangat saya sukai dan sepertinya menjadi aktifitas utama di masa kuliah dulu hahaha. Sesederhana itulah alasan saya menamakannya "jalan-jalan".
Ngomong-ngomong soal jalan-jalan, enam bulan ini saya banyak jalan-jalan ke berbagai tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Malah, setelah dua puluh dua tahun hidup di dunia, baru di bulan-bulan inilah saya berkesempatan naik pesawat terbang hehehe, norak ya.
Kali ini, saya juga akan menulis soal jalan-jalan. Tapi ini jalan-jalan yang berbeda.Seperti judul di atas, ini kisah perjalanan hati.
Hmmm, sesulit mengenal hati sendiri, saya pun kesulitan memulai kisah ini.Karena tidak menemukan kalimat berita yang sesuai, izinkan saya memulainya dengan pertanyaan. Pertanyaan yang agak norak. Pernah jatuh cinta? Aduh, terlalu norak ya. Ganti aja deh. Menurutmu, seharusnya cinta itu gimana? Heu, tetap norak tapi biarlah.
Menurut saya, seharusnya cinta itu tumbuh dan butuh waktu. Seharusnya, cinta ada karena mengenal. Setidaknya sampai beberapa bulan yang lalu, saya masih berpikir beitu. Sampai beberapa bulan yang lalu, saya masih menertawakan cinta yang impulsif. Hingga kemudian, saya menertawakan diri sendiri. Saya mengalami cinta yang impulsif seimpulsif-impulsifnya. Dan kalau ditanya bagaimana kondisi saya saat ini, masih proses penyembuhan patah hati hehe.
Tetapi semua ini mengingatkan saya pada sesuatu, sebuah buku. Beberapa tahun lalu, saya membeli sebuah buku berjudul Yusuf dan Zulaikha. Alasan saya membelinya sederhana saja, sejak kecil saya penasaran kenapa akhirnya Yusuf menikah dengan Zulaikha hehe. Tetapi yang akan saya bagi di sini adalah prolog pada buku itu. Pada satu bagian prolog, ada sebuah kisah pendek. Kisah tentang perjalanan, hati, dan cinta.
Suatu ketika di suatu tempat, hiduplah seorang pemuda yang ingin meningkatkan keimanannya. Maka, didatanginya seorang pria tua bijaksana dan bertanya bolehkah ia menjadi muridnya. Pria tua itu tak begitu saja menjawab, tapi justru bertanya.
"Pernahkah kau jatuh cinta?" ujar pria tua itu dengan raut muka tercerahkan, bijak, tenang, dan jauh dari kesan norak.
Sang pemuda, menjawab singkat, "Belum."
Pria tua pun berkata, " Pergilah dan jatuh cintalah."
Ya, itulah yang dikatakan sang pria tua bijaksana pada pemuda yang ingin menjadi muridnya. Ia menyuruhnya jatuh cinta terlebih dahulu.
Kau tak akan pernah merasakan nikmatnya anggur dari cawan keimanan, sebelum kau jatuh cinta. Maka, jatuh cintalah. Tetapi jangan biarkan dirimu terlalu lama terlena dalam "cinta" itu. Setelah kau tahu rasanya jatuh cinta, raihlah cinta yang lebih tinggi. Hingga suatu saat kau akan mengerti perasaan Ibrahim ketika berkata, "Aku tak mencintai ia yang tenggelam." Kau akan berpaling pada cinta yang abadi.
Selanjutnya, kau akan tahu mengapa mantra Ibrahim saat anak buah Namrud membakar tubuhnya adalah mantra yang begitu ampuh. Itulah mantra cinta yang abadi. Hasbiyallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashiir.
Dari Ibrahim ,marilah kita berbicara tentang Adam. Sebulan yang lalu, ibu saya menceritakan sebuah kisah tentang manusia pertama tersebut. Tentang pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah.
Taukah kau doa Adam selama seratus tahun terpisah dari Hawa? Bukan doa meminta dipertemukan tetapi doa minta amnpun. Doa yang lahir karena tahu dirinya berdosa.
"Dan di malam pertama pertemuannya dengan Hawa, Adam terbangun dari tidurnya. Ada gelisah yang membangunkan kesadarannnya. Gelisah yang tak hilang walaupun Hawa kini kembali menemaninya. Gelisah karena rasa berdosa. Maka dengan bercucuran air mata, ia kembali mengucapkan doa itu," begitu ibu saya bercerita.
Doa itu, doa Adam, ternyata adalah lantunan kalimat yang sering saya dengar dari towa-towa masjid di kampung tempat empat tahun pertama hidup saya. Lantunan yang selalu saya sukai. Saya baru tahu, ternyata itu doa Adam. Maka lantunan itu pun kembali terngiang dalam ingatan saya.
Rabbana ya rabbana... dzolamna anfusana... waillam taghfirlana... watarhamna lanakuunanna minal khasirin...
Ya Allah, Tuhan kami, sungguh kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan apabila Engkau tidak mengampuni serta menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi…
Dan setelah doa-doa itu, saya teringat satu lagi percakapan dengan ibu saya. Teringat ketika wanita itu berkata, "Banyak-banyaklah mengingat Allah agar menjadi pemenang."
Sungguh, cukup sudah "jatuh cinta" ini. Saya akan meninggalkannya dengan penuh rasa syukur atas kesempatan mengalaminya.
Thanks, Allah :)
Minggu, 12 Juli 2009
Menikmati Nobonisme
Anti logika, terlebih dalam berkarya, tampaknya menjadi salah satu keunikan Nobon jika dibandingkan dengan para pelukis lainnya. Oleh karena itu, kita tidak dapat serta merta mempertanyakan pakem-pakem konvensional dalam penghayatan atas lukisan-lukisannya. Lukisan-lukisan Nobon yang bebas dari pakem-pakem konvensional itulah yang saat ini dipamerkan di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung. Pameran yang berlangsung sejak 4 Juli lalu sampai 14 Juli yang akan datang tersebut menyajikan 20 lukisan terbaru Nobon dengan media kanvas.
Herry Dim, kurator dalam pameran tersebut, mengungkapkan penemuannya akan kenyataan-kenyataan yang serba bukan ketika menyandingkan karya-karya Nobon dengan berbagai gerakan seni (lukis) yang pernah ada. Karya-karya Nobon cenderung mandiri, tidak terikat pada gerakan seni manapun. Maka, jika kecenderungan Nobon ini terus berlangsung, diterima oleh publik seni dan melahirkan pengikut, bukan mustahil suatu hari nanti akan dikenal suatu gerakan seni yang disebut Nobonisme.
Bersandar pada kejujuran
Bicara soal lukisan Nobon, tak bisa lepas dari sosok pelukisnya. Firman Irwansyah yang biasa dipanggil Ferry, salah satu teman Nobon, menggambarkan Nobon sebagai sosok yang unik. “Lukisannya pun tergolong unik untuk seorang awam seperti saya,” tutur Ferry.
Keunikan itu terlihat pula dalam komentar Nobon soal lukisannya. Dalam setiap perkataannya, melukis seolah proses yang ia percayakan sepenuhnya kepada tangan. Maka, tangan seperti punya logikanya sendiri yang tak dikenal oleh logika dalam kepala.
“Dalam melukis bersama kuas dan warna, kubiarkan tangan bergerak ikuti kata hati, intuisi. Bukan membentuk, walau kemudian pada akhirnya seperti ada bentukan. Saat melukis, ku tak tahu lagi dimana peran imajinasi dan estetika. Tangan telah berfungsi sebagai fikiran dan perasaan dalam penyelesaian sebuah karya, dan sepenuhnya bergantung pada proses,” ungkap Nobon dalam katalog pamerannya.
Dengan membebaskan diri dari pakem dan melukis dengan caranya sendiri, Nobon menghadirkan niai kejujuran dalam karyanya. Ferry menyebutnya sebagai seorang idealis. Sementara banyak seniman yang berbicara tentang seni dan mengatasnamakan seni dengan menampikkan seni itu sendiri, Nobon tetap konsisen dalam berkarya dan kesehariannya, bersandar pada kejujuran.
Sebuah pencerahan
Melalui lukisan-lukisannya dalam pameran kali ini, Nobon menyajikan putaran-putaran garis dan warna yang graduatif. Putaran-putaran inilah, yang oleh budayawan Radhar Panca Dahana, dikesankan sebagai ajakan untuk meraba bagian terdalam hati dan pikiran kita. Dilihat dari judulnya saja, lukisan-lukisan tersebut memang seolah berorientasi ke dalam diri. Beberapa judul tersebut antara lain “Di Dalam Lubuk Hati”, “Emosi Biru”, dan “Dambaan”.
Nobon sendiri menyatakan bentuk-bentuk dalam lukisannya sebagai bentuk-bentuk yang ia tidak pernah rencanakan atau ketahui sebelumnya. Ketika ia mengamati sosok dalam karyanya, maka sama halnya ia seperti orang lain, berposisi sebagai penonton. Nobon mengungkapkan, bila karyanya ia terjemahkan di waktu yang berbeda, ia sendiri mungkin akan memiliki impresi-impresi yang berlainan.
Terlepas dari caranya melukis yang tergolong unik, Nobon menyimpan harapan bahwa karya-karyanya akan memberi pencerahan. Harapan yang rasanya juga disimpan banyak seniman atas karya mereka. Dan pencerahan yang coba disuguhkan Nobon dalam pameran kali ini nampak terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja oleh para penikmat seni di Bandung.
Sabtu, 11 Juli 2009
Berkaca Dari Kematian Michael Jackson: Hati-Hati Gunakan Psikofarmaka
Telah dua pekan, dunia berduka atas kematian Michael Jackson. Lebih dari sekedar King of Pop, Jackson telah menginspirasi dunia lewat lagu-lagunya yang bertemakan kemanusiaan, seperti “Heal The World” dan “Black or White”. Ditambah lagi, perhatian dan sumbangsih Jackson bagi organisasi-organisasi kemanusiaan di berbagai negara pun tidak diragukan. Maka wajar, jika kemudian kematiannya menyentak banyak hati, terutama para penggemarnya. Sebuah pertanyaan pun menyeruak, “Ada apa di balik kematian Michael Jackson?”.
Hingga kini, penyebab kematian Jackson masih menjadi misteri. Jaringan TV Fox pada Minggu petang 28 Juni yang lalu, mengabarkan bahwa Jackson meninggal karena henti jantung (cardiac arrest), diduga akibat meminum sekaligus tujuh jenis obat-obat keras yang harus diresepkan dokter. Tiga di antaranya adalah narkotik analgetik, sedangkan empat lainnya masuk kategori antidepresan, antitukak lambung, relaksan otot, dan sedatif.
Dari sejumlah obat-obatan tersebut, antidepresan diketahui memiliki efek samping gangguan kardiovaskular. Pada dosis berlebih, antidepresan golongan trisiklik dapat menyebabkan gangguan ritme jantung yang berbahaya yang dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian, henti jantung yang dialami Jackson pun bisa jadi akibat penggunaan antidepresan.
Bahaya Konsumsi Obat Penenang
Hampir sepanjang usianya, kisah hidup Jackson selalu menarik perhatian banyak orang. Sifat Jackson yang menutup diri sering dikaitkan dengan dugaan child abuse (perlakuan salah terhadap anak) yang dialaminya semasa kecil. Konsumsi berbagai obat, termasuk obat penenang keras Propofol yang ditemukan penyelidik kepolisian di kediaman Jackson, semakin memunculkan spekulasi soal masalah psikis yang kemungkinan dideritanya.
Yang kemudian patut kita pikirkan bersama adalah, seberapa efektif pengobatan konvensional yang selama ini diterapkan terhadap penanganan penyakit psikis? Seperti yang diketahui banyak orang, maharaja rock ‘n roll Elvis Presley yang juga pernah menjadi mertua Jackson meninggal akibat overdosis obat-obat penenang. Dan ini bukanlah satu-satunya kasus overdosis obat-obat penenang.
Menurut Dr. Kusnandar Anggadiredja M.Si, staf pengajar farmakologi di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung yang menaruh perhatian terhadap kasus-kasus ketergantungan obat, pengamatan terhadap penggunaan beberapa obat penenang mengindikasikan adanya ketergantungan. “Bahkan ada kasus dimana penggunaan obat penenang selama seminggu telah memperlihatkan adanya ketergantungan, padahal dalam pengawasan dokter,” tutur Dr. Kusnandar.
Berkembangnya Metode Pengobatan Alternatif
Dr. Kusnandar juga mengungkapkan bahwa selain memperketat penggunaan obat-obat penenang, antisipasi terhadap masalah ketergantungan yang dapat bermuara pada overdosis dan kematian ini dapat dilakukan dengan keterbukaan terhadap metode-metode di luar kemoterapi dalam penanganan penyakit psikis. Artinya, dunia kedokteran patut membuka diri terhadap alternatif pengobatan penyakit psikis di luar penggunaan obat-obat kimia. Tentunya dengan tetap berhati-hati terhadap kemungkinan efek samping dari metode-metode tersebut.
“Saat ini muncul berbagai alternatif metode pengobatan untuk penyakit psikis, terutama di negara-negara maju. Salah satunya, metode penyinaran yang dilakukan di Jepang. Penyinaran ini tidak dilakukan di ruang gelap. Pasien duduk di suatu ruangan biasa, hanya saja penyinaran di ruangan tersebut menggunakan sinar tertentu,” ujar Dr. Kusnandar.
Sabtu, 13 Juni 2009
Mahasiswa Seni Murni ITB Gelar Love Letter (s) di Rumah Buku
Cinta dapat dirasakan di mana saja dan oleh siapa saja, maka Oktianita Kusmugiarti mengangkat cinta di pepohonan dengan burung-burung sebagai tokoh dalam lukisannya. Sementara bagi Windi Apriani, cinta adalah peristiwa yang melibatkan senyawa-senyawa kimia seperti terlihat dalam lukisannya yang berjudul "Chemical Basis of Love". Lain lagi dengan Yanu Kusumaditya yang membahasakan cinta sebagai "Hari Yang Tak Bersudut" dimana lukisan karyanya merupakan satu-satunya lukisan dengan bingkai lingkaran dalam pameran ini.
Selain keberagaman karya para senimannya, salah satu keunikan pameran ini adalah pemilihan Rumah Buku sebagai lokasi pameran. Fungsi Rumah Buku sebagai perpustakaan tidak terganggu dengan adanya pameran ini karena karya-karya seniman ditempatkan di antara buku-buku atau pada ruang-ruang kosong dalam perpustakaan seperti jendela dan dinding sehingga justru terasa sebagai penghias ruangan yang merupakan bonus tersendiri bagi pengunjung perpustakaan.
Menurut Oki dari pihak Rumah Buku, konsep pameran ini sebagai pembacaan kembali atas cinta juga sesuai dengan konsep Rumah Buku yang didirikan atas dasar kecintaan pada buku, film, dan musik. Cinta menjadi benang penghubung antara seniman-seniman dalam pameran ini dengan Rumah Buku sebagai fasilitatornya dan mungkin juga menjadi penghubung keduanya dengan para pengunjung yang menikmati karya-karya yang dibuat atas nama cinta. Tak heran jika salah satu seniman dalam pameran ini yaitu Leyla Aprilia mengungkapkan, "Love is Like A Thread". Cinta seperti benang yang membentuk kisah.

